Rabu, 31 Agustus 2016

Korban Ganasnya Aspal jalanan

        Ciee... aku muncul lagi ini (ada yang kangen gak ?? gak ada ya  ??). Btw ini baru post ku yang kedua (miris... haha gimana orang mau kangen ngepost aja gax pernah), tapiii doain aja ya kedepannya aku bakalan sering nulis, soalnya aku belum terbiasa dengan yang namanya tulis menulis. Oke untuk mempersingkat waktu ( apaan emangnya lagi jadi pembawa acara ??) langsung aja ya kita ke topik. Kali ini, aku mau share sedikit, eh gak sedikit sih ya agak banyak gitu tapi gax banyak banget “apaan lagi sih??” maklumin guys biar kalian sedikit penasaran...... emang ada yang penasaran ?? ah sudah sudah, di second post ini aku sebenernya mau curhat tentang kecelakaan motor yang tak pernah hilang dari ingatan( mau curhat aja berbelit – belit, nampak banget jomblonya L). 
Sebagai seorang pecinta motor (eitss...padahal karena emang gak punya mobil jadi gak bisa jadi pecinta mobil) anggap saja seorang pembalap motor kacangan yang sok – sokan ngebut so bukan hal yang aneh lagi kalo sering ngerasain hangatnya aspal jalanan. Awalnya dulu aku mulai mengendarai motor pas waktu SMP kelas 9 berhubung karena jarak tempuh yang lumayan jauh dari rumah ke sekolah ( jadi selama kelas 7 sampek 8 aku dianterin orang tua ke sekolah), alhasil mungkin karena ortu udah yakin kalo aku bisa bawa motor jadi dibelikannlah aku sebuah motor baru sama dua malaikat ku itu, emmm inget banget itu motor warna merah dengan merek "SUPRA X 125" (bukan iklan ya).
 Wisss pasti seneng banget kan itu motor masih kinclong banget, ada debu sedikit aja pasti langsung hebring. Nah singkat cerita, waktu itu aku pulang sekolah sama adik aku yang juga satu sekolah denganku, oh iya aku lupa kalo aku punya adik yang pas waktu itu duduk dikelas 7 namanya “Nur Mustika Rahmawati” hanya nama tengah kami saja yang berbeda (panggil dia Tika). Emm the next cerita, sebelum pulang, waktu itu kebetulan temen aku ada yang ultah, jadi ya tau kan kebiasaan anak SMP kalo temennya ultah pasti ya nyeplokin telur ke dia (.... Ya Allah kebiasaan yang sangat mubadzir banget kan ). Setelah ritual perayaan selesai, aku langsung cusss pulang deh sama si Tika dan aku yang jadi drivernya kebetulan dia gak bisa naik motor hehe..hehe... Entah kenapa kok selama di jalan pikiran ku kosong, perasaan gak enak aja, ehh ternyataaaa.........”brakkkkkkk”.... motor ku terguling di aspal (and of course sama aku and Tika juga ya).
Pada waktu itu aku memutuskan untuk belok ke lorong rumah ku dan tentunya pasang lampu sen dong. Entah karena apes atau karena takdir, tiba – tiba dari belakang muncul sebuah motor hitam dengan kecepatan yang sangat tinggi, kebayang kan gimana rasanya kalo ditabtrak motor berkecepatan tinggi. Yahhhh... adikku terlempar sejauh 11 meter keluar aspal, sedangkan aku masih stay di aspal bersama motor yang pastinya gak kinclong lagi akibat dicium aspal. Saat kejadian aku melihat oli motorku menetes secara perlahan, body motor ku retakk, hatiku menjeritt “ motor kinclonggg ku kini tak lagi perawan direnggut kejamnya aspal” aneh sih,, saat itu aku tidak memperdulikan bagaimana kondisi ku dan juga adikku, tapi hanya memikirkan nasib motorku (ya ampun pikiran macam apa itu)
Hingga tak lama setelah itu berbondong – bondong orang datang untuk membantu kami, dannnnn.... disaat itulah aku baru merasakan sakit pada kaki dan kepala ku. Aku dibantu untuk berdiri, tetapi ternyata kaki ku bengkak hingga aku tak bisa berjalan, sepatu ku terlempar hingga hanya tersisa satu di kaki kanan ku, dan betapa malunya lagi ketika ku lihat rok biru SMP telah sobek. Dengan penuh perjuangan akhirnya aku dievakuasi (kayak korban bencana alam ya ) ke salah satu rumah warga, dan adikku masih diseberang aspal bersama warga lain yang ikut menolong.
Pada saat itu yang kurasakan hanyalah nyeri yang tak tertahankan pada kaki tanpa kusadari bahwa kepala bagian kanan ku ternyata sobek. Entahlah mengapa aku bisa tak menyadarinya, hal itu kusadari sewaktu tangan ku berdarah ketika aku mengusap kepala ku. Sontak saja aku terkejut. Datanglah kakak senior ku yang berdomisili disekitar tempat tersebut, dan langsung membantu membersihkan luka di kepala ku. suasana riuh pun mulai terdengar, mereka memaksaku pergi ke rumah sakit untuk segera dijahit. Mendengar kata “DIJAHIT” membuat jantung seakan berhenti. Aku langsung menolak ajakan mereka ke rumah sakit dengan alasan aku gak mau ke rumah sakit kalo Bapak sama ibu gak ke tempat itu.
 Akhirnya salah satu dari mereka menjemput bapak yang untungnya ada di rumah karena sudah pulang mengajar, sedangkan ibu sedang mendampingi siswanya Lomba Cerdas Cermat. Datanglah bapak dengan selang waktu sekejap, nahhh seketika bapak datang barulah adikku disatukan dengan ku (tapi gak sampek berpelukan kayak teletubies lho). Pergilah kami ke rumah sakit terdekat dengan diantar salah satu warga mengendarai mobil. Alhamdulillah adikku tidak menderita luka – luka tapi dia terus menangis, mengeluh bahwa kepala belakangnya sakit. Tangisannya bertambah terisak – isak ketika melihat darah di kepala ku. Sementara adikku diperiksa oleh dokter karena takut terjadi pendarahan didalam, aku mulai ditangani oleh seorang dokter yang relatif masih muda dan cukup tampan menurutku haha.... jaga mata ya bukan mukhrim.
Ujung jarum pun mulai menjalankan tugasnya sedikit demi - sedikit mulai menusuk masuk ke dalam kulit, terasa sedikit nyeri sewaktu tusukan pertama, tetapi selanjutnya terasa dingin tanpa ada rasa sakit,, ohhhh terima kasih obat infus, tanpamu pasti satu rumah sakit bakalan mendengar jeritanku. Saat itu, ibu ku masih belum mengetahui peristiwa yang menimpa dua anak gadisnya ini. Akhirnya, bapak meminta  tolong kepada seseorang yang sudah kuanggap sebagai kakak sendiri, iya aku memanggilnya mbak Nur untuk menjemput ibu di SD yang mengadakan lomba tersebut yang ternyata SD itu berada tepat di depan rumah sakit.
“Mbak Nur menjemput ibu dengan alasan mengajak ibu pulang karena pada saat itu juga ibu baru saja sembuh dari demam, yah tentu saja ibu menolak karena beliau yakin bahwa dirinya baik – baik saja. Mbak Nur pun terus memaksa, alhasil ibu mau ikut tanpa diberitahu alasan yang sebenarnya karena takut kalo ibu khawatir. Betapa terkejutnya ibu ketika motor mereka berhenti di depan rumah sakit dengan melihat sorang gadis yang tentu tak asing baginya sedang menangis diluar, dia si Tika yang sudah selesai diperiksa dokter yang sedari tadi masih tetap menangis sedang duduk terisak di kursi luar rumah sakit. Ibu mencoba bertanya “ kenapa dek kok nangis? (panggil ibu ke Tika) “siapa yang sakit ? “Bapak mana ?? “ Bapak kenapa ?” tetapi Tika tak menjawab satupun pertanyaan, Ibuku mengira bapak lah yang sakit, bergegaslah beliau masuk keruangan, dan ternyata akulah yang terbaring disana dengan perban di kepala. Ibu menangis sejadi – jadinya melihat putri sulungnya terbaring lemah tetapi tanpa terlihat air mata di sudut mata putrinya itu, sedangkan bapak tetap berusaha tenang dan coba menenangkan diri untuk tidak memperkeruh suasana. Melihat ibu menangis seperti itu, aku hanya bilang “ lah kok ibu nangis, Indah aja gak ada nangis, udah ah bu malu sama yang lain” yah bukannya berhenti menangis, malah volume tangisan semakin tinggi. Jeng ... jeng... singkat cerita sejak hari itu aku menghabiskan waktu di rumah tanpa pergi ke sekolah, padahal Ujian Nasional SMP sudah berada di depan mata.... cerita berlanjuttt di post selanjutnya. Selama beberapa post ke depan aku akan membahas tentang pengalamnku sebagai korban aspal.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar