Ciee...
aku muncul lagi ini (ada yang kangen gak ?? gak ada ya ??). Btw ini baru post ku yang kedua (miris...
haha gimana orang mau kangen ngepost aja gax pernah), tapiii doain aja ya
kedepannya aku bakalan sering nulis, soalnya aku belum terbiasa dengan yang
namanya tulis menulis. Oke untuk mempersingkat waktu ( apaan emangnya lagi jadi
pembawa acara ??) langsung aja ya kita ke topik. Kali ini, aku mau share
sedikit, eh gak sedikit sih ya agak banyak gitu tapi gax banyak banget “apaan
lagi sih??” maklumin guys biar kalian sedikit penasaran...... emang ada yang
penasaran ?? ah sudah sudah, di second post ini aku sebenernya mau curhat tentang
kecelakaan motor yang tak pernah hilang dari ingatan( mau curhat aja berbelit –
belit, nampak banget jomblonya L).
Sebagai
seorang pecinta motor (eitss...padahal karena emang gak punya mobil jadi gak
bisa jadi pecinta mobil) anggap saja seorang pembalap motor kacangan yang sok –
sokan ngebut so bukan hal yang aneh lagi kalo sering ngerasain hangatnya aspal
jalanan. Awalnya dulu aku mulai mengendarai motor pas waktu SMP kelas 9 berhubung
karena jarak tempuh yang lumayan jauh dari rumah ke sekolah ( jadi selama kelas
7 sampek 8 aku dianterin orang tua ke sekolah), alhasil mungkin karena ortu
udah yakin kalo aku bisa bawa motor jadi dibelikannlah aku sebuah motor baru
sama dua malaikat ku itu, emmm inget banget itu motor warna merah dengan merek "SUPRA X 125" (bukan iklan ya).
Wisss pasti seneng banget kan itu motor masih
kinclong banget, ada debu sedikit aja pasti langsung hebring. Nah singkat
cerita, waktu itu aku pulang sekolah sama adik aku yang juga satu sekolah
denganku, oh iya aku lupa kalo aku punya adik yang pas waktu itu duduk dikelas
7 namanya “Nur Mustika Rahmawati” hanya nama tengah kami saja yang berbeda
(panggil dia Tika). Emm the next cerita, sebelum pulang, waktu itu kebetulan temen
aku ada yang ultah, jadi ya tau kan kebiasaan anak SMP kalo temennya ultah
pasti ya nyeplokin telur ke dia (.... Ya Allah kebiasaan yang sangat mubadzir
banget kan ). Setelah ritual perayaan selesai, aku langsung cusss pulang deh
sama si Tika dan aku yang jadi drivernya kebetulan dia gak bisa naik motor hehe..hehe... Entah kenapa kok selama di jalan
pikiran ku kosong, perasaan gak enak aja, ehh ternyataaaa.........”brakkkkkkk”....
motor ku terguling di aspal (and of course sama aku and Tika juga ya).
Pada
waktu itu aku memutuskan untuk belok ke lorong rumah ku dan tentunya pasang
lampu sen dong. Entah karena apes atau karena takdir, tiba – tiba dari belakang
muncul sebuah motor hitam dengan kecepatan yang sangat tinggi, kebayang kan
gimana rasanya kalo ditabtrak motor berkecepatan tinggi. Yahhhh... adikku
terlempar sejauh 11 meter keluar aspal, sedangkan aku masih stay di aspal bersama
motor yang pastinya gak kinclong lagi akibat dicium aspal. Saat kejadian aku
melihat oli motorku menetes secara perlahan, body motor ku retakk, hatiku
menjeritt “ motor kinclonggg ku kini tak lagi perawan direnggut kejamnya aspal” aneh sih,,
saat itu aku tidak memperdulikan bagaimana kondisi ku dan juga adikku, tapi
hanya memikirkan nasib motorku (ya ampun pikiran macam apa itu)
Hingga
tak lama setelah itu berbondong – bondong orang datang untuk membantu kami,
dannnnn.... disaat itulah aku baru merasakan sakit pada kaki dan kepala ku. Aku
dibantu untuk berdiri, tetapi ternyata kaki ku bengkak hingga aku tak bisa
berjalan, sepatu ku terlempar hingga hanya tersisa satu di kaki kanan ku, dan
betapa malunya lagi ketika ku lihat rok biru SMP telah sobek. Dengan penuh
perjuangan akhirnya aku dievakuasi (kayak korban bencana alam ya ) ke salah
satu rumah warga, dan adikku masih diseberang aspal bersama warga lain yang
ikut menolong.
Pada
saat itu yang kurasakan hanyalah nyeri yang tak tertahankan pada kaki tanpa
kusadari bahwa kepala bagian kanan ku ternyata sobek. Entahlah mengapa aku bisa
tak menyadarinya, hal itu kusadari sewaktu tangan ku berdarah ketika aku
mengusap kepala ku. Sontak saja aku terkejut. Datanglah kakak senior ku yang
berdomisili disekitar tempat tersebut, dan langsung membantu membersihkan luka
di kepala ku. suasana riuh pun mulai terdengar, mereka memaksaku pergi ke rumah
sakit untuk segera dijahit. Mendengar kata “DIJAHIT” membuat jantung seakan
berhenti. Aku langsung menolak ajakan mereka ke rumah sakit dengan alasan aku
gak mau ke rumah sakit kalo Bapak sama ibu gak ke tempat itu.
Akhirnya salah satu dari mereka menjemput
bapak yang untungnya ada di rumah karena sudah pulang mengajar, sedangkan ibu
sedang mendampingi siswanya Lomba Cerdas Cermat. Datanglah bapak dengan selang
waktu sekejap, nahhh seketika bapak datang barulah adikku disatukan dengan ku
(tapi gak sampek berpelukan kayak teletubies lho). Pergilah kami ke rumah sakit
terdekat dengan diantar salah satu warga mengendarai mobil. Alhamdulillah adikku
tidak menderita luka – luka tapi dia terus menangis, mengeluh bahwa kepala
belakangnya sakit. Tangisannya bertambah terisak – isak ketika melihat darah di
kepala ku. Sementara adikku diperiksa oleh dokter karena takut terjadi
pendarahan didalam, aku mulai ditangani oleh seorang dokter yang relatif masih
muda dan cukup tampan menurutku haha.... jaga mata ya bukan mukhrim.
Ujung
jarum pun mulai menjalankan tugasnya sedikit demi - sedikit mulai menusuk masuk ke dalam kulit, terasa sedikit nyeri sewaktu tusukan pertama, tetapi
selanjutnya terasa dingin tanpa ada rasa sakit,, ohhhh terima kasih obat infus,
tanpamu pasti satu rumah sakit bakalan mendengar jeritanku. Saat itu, ibu ku
masih belum mengetahui peristiwa yang menimpa dua anak gadisnya ini. Akhirnya,
bapak meminta tolong kepada seseorang
yang sudah kuanggap sebagai kakak sendiri, iya aku memanggilnya mbak Nur untuk menjemput
ibu di SD yang mengadakan lomba tersebut yang ternyata SD itu berada tepat di
depan rumah sakit.
“Mbak
Nur menjemput ibu dengan alasan mengajak ibu pulang karena pada saat itu juga
ibu baru saja sembuh dari demam, yah tentu saja ibu menolak karena beliau yakin
bahwa dirinya baik – baik saja. Mbak Nur pun terus memaksa, alhasil ibu mau
ikut tanpa diberitahu alasan yang sebenarnya karena takut kalo ibu khawatir. Betapa
terkejutnya ibu ketika motor mereka berhenti di depan rumah sakit dengan
melihat sorang gadis yang tentu tak asing baginya sedang menangis diluar, dia
si Tika yang sudah selesai diperiksa dokter yang sedari tadi masih tetap
menangis sedang duduk terisak di kursi luar rumah sakit. Ibu mencoba bertanya “
kenapa dek kok nangis? (panggil ibu ke Tika) “siapa yang sakit ? “Bapak mana ??
“ Bapak kenapa ?” tetapi Tika tak menjawab satupun pertanyaan, Ibuku mengira
bapak lah yang sakit, bergegaslah beliau masuk keruangan, dan ternyata akulah
yang terbaring disana dengan perban di kepala. Ibu menangis sejadi – jadinya
melihat putri sulungnya terbaring lemah tetapi tanpa terlihat air mata di sudut
mata putrinya itu, sedangkan bapak tetap berusaha tenang dan coba menenangkan
diri untuk tidak memperkeruh suasana. Melihat ibu menangis seperti itu, aku
hanya bilang “ lah kok ibu nangis, Indah aja gak ada nangis, udah ah bu malu
sama yang lain” yah bukannya berhenti menangis, malah volume tangisan semakin
tinggi. Jeng ... jeng... singkat cerita sejak hari itu aku menghabiskan waktu di
rumah tanpa pergi ke sekolah, padahal Ujian Nasional SMP sudah berada di depan
mata.... cerita berlanjuttt di post selanjutnya. Selama beberapa post ke depan
aku akan membahas tentang pengalamnku sebagai korban aspal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar